Banten adalah sebuah provinsi di Tatar
Pasundan, serta wilayah paling barat di Pulau Jawa, Indonesia. Provinsi ini pernah menjadi
bagian dari Provinsi Jawa Barat, namun menjadi wilayah
pemekaran sejak tahun 2000, dengan keputusan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2000. Pusat pemerintahannya
berada di Kota Serang.
Nama Banten mulai terdengar menjelang abad XII.
Setidaknya pada abad XII-XV Banten sudah menjadi pelabuhan kerajaan Sunda.
Menurut Ten Dam di daerah sekitar ibu kota kerajaan Sunda yakni Pajajaran, yang
lokasinya sekitar Bogor sekarang, sudah ada dua jalur jalan darat penting yang
menghubungkan daerah pantai utara dengan ibukota. Salah satu dan jalur darat
itu ialah jalan dan ibukota Pajajaran menuju Jasinga, kemudian membelok ke
utara Rangkasbitung, dan berakhir di Banten Girang, yang terletak kira-kira ± 3
km di sebelah selatan kota Serang atau sekitar ±13 km dan Banten Lama.
Pada waktu Tome Pires mengunjungi Banten tahun 1513,
Banten merupakan pelabuhan kedua terbesar setelah Sunda Kelapa di kerajaan
Sunda. Hubungan dagang telah banyak dilakukan antara Banten dengan Sumatera dan
banyak perahu yang berlabuh di Banten. Pada waktu itu Banten sudah merupakan
pelabuhan pengekspor beras, bahan makanan, dan lada. Sedangkan sekitar tahun
1522 Banten sudah merupakan pelabuhan yang cukup berarti, di mana kerajaan
Sunda Kelapa sudah mengekspor 1000 bahar lada pertahun.
Ketika kerajaan Islam berdiri, pusat kekuasaan di wilayah
ini yang semula berkedudukan di Banten Girang, dipindahkan ke keraton Surosowan
di Banten Lama dekat pantai. Dari sudut politik dan ekonomi, pemindahan ini
dimaksudkan untuk memudahkan hubungan antara pesisir utara Jawa dengan pesisir
Sumatera melalui selat Sunda dan Samudera Indonesia. Situasi ini berkaitan
dengan kondisi politik di Asia Tenggara masa itu di mana Malaka sudah jatuh di
bawah kekuasaan Portugis, sehingga pedagang-pedagang mengalihkan jalur
dagangnya melalui Selat Sunda.
Berdirinya keraton Surosowan sebagai ibu kota kerajaan
Banten adalah atas petunjuk dan perintah Sunan Gunung Jati kepada putranya
Hasanuddin yang kemudian menjadi raja Banten pertama. Kedatangan penguasa Islam
ke daerah Banten terjadi kira-kira 1524-1525 pada saat mana daerah Banten masih
berada dalam kekuasaan kerajaan Sunda dengan penguasanya bernama Rabu Pucuk
Umum. Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah yang menjadi penguasa
pertama di Banten tidak mentasbihkan diri menjadi raja pertama tetapi
menyerahkan kekuasaannya kepada putranya Maulana Hasanuddin. Sultan Hasanuddin
dinobatkan menjadi raja Banten pada tahun 1552. Selain membangun keraton
Sunosowan, Hasanuddin juga membangun mesjid di sekitar Banten Lama sekarang.
Hasanuddin digantikan oleh Maulana Yusuf sebagai raja
Banten yang kedua (1570-15 80). Ia telah memperluas wilayah kekuasaan kerajaan
Banten sampai jauh ke pedalaman yang semula masih dikuasai kerajaan Sunda dan
berhasil menduduki ibukota keraja.an di Pakuwan. Maulana Yusuf memperluas
bangunan Mesjid Agung dengan membuat serambi dan juga telah membangun sebuah
mesjid lain di Kasunyatan (selatan Banten Lama). Waktu Maulana Yusuf wafat yang
berhak naik tahta ialah Pangeran Muhammad. Karena waktu itu pangeran Muhammad
masih kecil maka yang bertindak sebagai wali raja ialah Pangeran Aria Japara.
Salah satu peristiwa penting dan masa pemerintahan
Pangeran Muhammad ialah kedatangan - kapal-kapal Belanda pada tahun 1596 yang
berlabuh dipelabuhan Banten dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Dan merekalah
kita mendapat catatan-catatan tertulis yang sangat berharga tentang Banten. Dan
catatan Jan Jansz Kaerel tertanggal 6 Agustus 1596 disebutkan bahwa kapal-kapal
asing yang benlabuh di pelabuhan Banten harus mendapat ijin Shyahbandar. Untuk
masuk ke kota Banten dan pelabuhan terlebih dahulu harus melalui “‘tolhuis”
atau kios pungut pajak.
Dan gambar kota Banten tahun 1596 dapat dilihat bahwa
dekat pasarjuga terdapat mesjid. Kota Banten sebagai ibukota kerajaan sudah
mempunyai pagar tembok dan batu bata, yang berfungsi sebagai pagar tembok
keliling kota. Tentang pasar sebagai pusat perekonomian dapat dibaca catatan
dan Willem Lodewiycksz yang menggambarkan keadaan pasar Banten.
Barang perdagangan yang ada di pasar Banten terdiri dan
barang-barang dan dalam dan luar negeri seperti sutera, beludru, porselin,
sedangkan barang-barang dan daerah selempat ad&ah barang-barang untuk
keperluan sehari-hari seperti buah-buahan, sayuran, cabe, gula, madu, gambir,
bambu, kenis, lombak dan lain-lain.
Untuk jual beli di pasar atau dalam transaksi perdagangan
di Banten sudah digunakan mata uang sebagai alat pembayaran. Ketika Tome Pires
(1513) mengunjungi beberapa pelabuhan di Jawa mata uang yang dipakai sebagai
alat tukar adalah mata uang Cina yaitu Casha (Caxa). Namun dapat juga
disebutkan bahwa mata uang lersebut pada abad XVI merupakan alat tukar yang utama
dalam perdagangan di Banten. Hal terseout telah membuktikan bahwa Banten pada
waktu itu telah mendapat perhatian dan pedagang-pedagang internasional atau
asing.
Mulai abad XVII
kondisi social politik Banten ditandai
adanya pengaruh Belanda dalam kehidupan tata pemenintahan dan
perdagangan dikalangan kerajaan, sehinga abad ini merupakan puncak kemaj uan
kerajaan.
Catatan mengenai kota Banten pada abad XVII dapat kita
peroleh dan berbagai sumber. Di sebut bahwa pada tahun 1664 Banten sudah
dikelilingi oleh tembok kuat yang terbual dan bata dan bermeniam, Pada masa
pemenintahan Sultan Abu Nash Abdul Qahhar dihenti benteng sekeliling.
Berdasarkan catatan Belanda, benteng ini dibuat oleh Hendrik Lucaszoon Carded.
Di mana iajuga membangun menara dan gedung tiyamah dipelataran halaman Mesjid
Agung.
Pada abad XVII, Banten telah mendapat kemajuan dalam
bidang ekonomi dan perdagangan. Banyak orang asing terutama orang Asia,
melakukan hubungan dagang dengan kerajaan Banten. Orang Gujarat merupakan
penghuhung antara pedagang asing dengan penguasa kerajaan. Pada waktu itu di
Banten terdapat barang-barang mewah yang diperdagangkan hal tersebut menandakan
bahwa tingkat konsumsi dan masyarakat Banten cukup tinggi. Setiap tahunnya banyak pedagang-pedagang Cina yang
berlabuh di Banten. Kebanyakan dan mereka menukankan barang dagangan meneka
dengan lada. Hal ini telah membuktikan bahwa Banten telah ramai dikunjungi
orang asing.
Pada abad 18 rakyat Banten tidak mau bekerja sama dengan
Belanda sehingga banyak pemimpin-pemimpin di Banten bangkit melawan Belanda.
Terutama ketika Banten diperintah oleh Sultan Fathi Muhammad Zainul Arifin
banyak sekali terjadi penlawanan. Hal tersebut sebagai pengaruh kebijaksanaan
Belanda yang sangat menekan Rakyat Banten, misalnya seperti kerja paksa, dan
lain-lain. Akibat dan ini, maka pada tahun 1735 Sultan Fathi Muhamammad Zainul
Arifin ditangkap dan dibuang ke Ambon. Setelah ini kerajaan dipenntah oleh
Sultan Wasi Zainul Alimin yang hanya memenintah selama satu tahun dan kemudian
digantikan oleh Sultan Muhammad Arif Zainul Asikin yang memerintah sampai tahun
1773. Selanjutnya diteruskan oleh Sultan lshak Zainul Muttaqin, Kemudian pada
masa pemerintahan Sultan Muhammad Syafiuddin penduduk dipaksa bekerja utuk
membangun sebuah pelabuhan besar di Labuhan. Proyek ini banyak memakan korban
jiwa. Sultan Muhammad Syariuddin merasa prihatin atas keadian tersebut, ia
tidak ingin mengorbankan rakyatnya dan kemudian langsung menyuruh menghentikan
proyek tersebut. Keadaan yang demikian mengakibatkan Daendels menjadi marah dan
memerintahkan Du Puy untuk memperingatkan Sultan. Karena tindakan Du Puy yang
dianggap tdak sopan terhadap Sultan, maka diapun dibunuh oleh masyarakat di
depan keraton. Akibatnya, sebagai tindakan pembalasan, kemudian Sultan
ditangkap dan dibuang ke Ambon.
Setelah itu wilayah Banten diduduki oleh Belanda, keraton
Surosowan dihancurkan, lantainya dibongkar dan dibawa ke Serang untuk membangun
kantor perwakilan Belanda. Walaupun Sultan Muhammad Rafiuddin masih memerintah,
namun kekuasaannya sudah tidak berarti apa-apa lagi. Waktu itu pusat kerajaan
telah dipindahkan ke keraton Kaibon. Pada tahun
1816, datang utusan dari Belanda di bawah pimpinan Gubernur Van Der
Capellen dan mengambil alih kekuasaan dan tangan Sultan Muhammad Rafiudin. Oleh
Belanda wilayah kekuasaan kerajaan dibagi menjadi tiga kabupaten yaitu Serang,
Lebak dan Cairingin. Maka dengan ini berakhirlah masa kesultanan di Banten.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar